![]() |
| Ilustrasi : NINJA DARI TIMUR HASAN SABBAH DAN PARA HASHSHASHIN |
Hasan Sabbah dan Hashshashin: “Ninja dari Dunia Islam”
Dalam lintasan sejarah Islam abad pertengahan, terdapat sebuah kelompok rahasia yang meninggalkan jejak penuh misteri. Kelompok ini dikenal sebagai Hashshashin, yang oleh para sejarawan Barat sering dijuluki sebagai “Ninja dari Timur.” Mereka muncul pada abad ke-11 di kawasan Persia dan terkenal karena operasi-operasi politik yang dilakukan dengan penuh kerahasiaan dan keberanian.
Hasan Sabbah: Sang Pendiri Gerakan
Sosok utama di balik lahirnya Hashshashin adalah Hasan bin Sabbah (1050–1124 M). Ia dilahirkan di Qom, Persia, dan sejak muda sudah menonjol karena kecerdasan serta ketekunannya dalam menimba ilmu. Hasan kemudian terpengaruh oleh ajaran Ismailiyah—sebuah cabang Syiah yang saat itu mendapat dukungan dari Dinasti Fatimiyah di Mesir.
Pada tahun 1090 M, Hasan berhasil menguasai Benteng Alamut, sebuah benteng pegunungan yang sulit ditembus di Persia utara. Alamut menjadi pusat perlawanan, markas intelijen, sekaligus tempat mendidik kader yang kelak dikenal sebagai Hashshashin.
Asal Usul Nama Hashshashin
Istilah Hashshashin masih menimbulkan perdebatan. Ada pandangan yang menyebut kata itu berasal dari hashish (ganja), karena diyakini dipakai untuk menambah keberanian para anggota. Namun sebagian ahli menganggap itu hanyalah propaganda lawan politik mereka. Di kalangan internal, mereka lebih suka menyebut diri Fidā’iyyūn, yang berarti “pejuang pengorbanan.”
![]() |
| Metedo Perjuangan |
Metode Perjuangan
Hashshashin tidak bergerak dengan pasukan besar. Sebaliknya, mereka mengandalkan operasi individu atau kelompok kecil. Anggotanya dididik dengan disiplin keras: menguasai penyamaran, infiltrasi, bela diri, hingga kesediaan mengorbankan nyawa.
Target serangan mereka bukan rakyat biasa, melainkan tokoh politik, panglima, atau penguasa yang dianggap mengancam keyakinan Ismailiyah. Senjata utama mereka biasanya hanyalah belati. Aksi dilakukan secara terbuka di hadapan publik agar menimbulkan efek psikologis: menunjukkan bahwa tidak ada penguasa yang benar-benar aman.
“Ninja dari Timur Tengah”
Banyak sejarawan membandingkan Hashshashin dengan ninja dari Jepang. Keduanya sama-sama mengandalkan kerahasiaan, penyusupan, serta keahlian membunuh dengan presisi. Bedanya, jika ninja lahir dari tradisi militer Jepang, Hashshashin berakar pada konflik politik dan teologi dalam dunia Islam.
Ada kisah terkenal tentang Sultan Saladin (Ṣalāḥuddīn al-Ayyūbī), penakluk Yerusalem. Disebutkan bahwa tenda Saladin pernah berhasil dimasuki Hashshashin. Saat ia terbangun, sebilah belati tertancap di samping bantalnya sebagai peringatan. Peristiwa itu membuat Saladin memilih berdamai dengan mereka.
![]() |
| Ilustrasi : Runtuh nya kekuatan Hashshashin oleh pasukan Mongol menyerbu Persia pada tahun 1256 M |
Masa Jaya dan Keruntuhan
Pada abad ke-11 hingga ke-13 M, Hashshashin menjadi momok yang ditakuti penguasa Eropa maupun Timur Tengah. Para bangsawan Perang Salib pun kerap menjadi korban operasi rahasia mereka.
Namun kejayaan itu tidak bertahan lama. Ketika pasukan Mongol menyerbu dunia Islam, Hashshashin ikut menjadi korban. Tahun 1256 M, Hulagu Khan menghancurkan Benteng Alamut, membantai banyak pengikut, dan melemahkan kekuatan mereka hingga akhirnya hilang dari sejarah.
Jejak yang Tersisa
Meskipun lenyap, warisan Hashshashin tetap hidup. Kata assassin dalam bahasa Inggris diyakini berasal dari nama kelompok ini. Lebih jauh, kisah mereka menginspirasi banyak karya populer, mulai dari novel, film, hingga video game.
Hashshashin adalah bukti bahwa sebuah kelompok kecil, dengan strategi matang dan keyakinan kuat, mampu mengguncang peta politik global pada masanya. Mereka dikenang sebagai sosok misterius—separuh nyata, separuh legenda—yang menjadi “Ninja dari Dunia Islam.”
Uploader Dani Tafwid
COPYRIGHT © danitafwid-article 2025
_
.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar